Makalah Peta Sejarah Islam



MAKALAH
 SEJARAH ISLAM ASIA BARAT
PETA SEJARAH ISLAM

Description: E:\Logo-STAIN-Salatiga-600.jpg
Disusun Oleh
Soleh Rubiyanto
Qisthi Faradina Ilma Mahanani

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2014

BAB I
Peta Sejarah Islam
A. Masa Rosul
A. Arab pra islam (tahun 570-632 M)
B. periode mekah (tahun 610-622 M)
C. periode madinah (tahun 622-632 M)
B. Masa khulafaurosyidhin
Khulafaur Rasyidin adalah para kholifah yang arif bijaksana. Mereka adalah keempat sahabat yang terpilih menjadi pemimpin kaum muslim setelah Nab Muhammad Rasulullah saw. wafat. Keempat kholifah tersebut ialah:
1. Abu Bakar ash-Shiddiq ra  (tahun 11-13 H/632-634 M)
2. ’Umar bin khaththab ra  (tahun 13-23 H/634-644 M)
3. ’Utsman bin ‘Affan ra  (tahun 23-35 H/644-656 M)
4. Ali bin Abi Thalib ra  (tahun 35-40 H/656-661 M)
C. Dinasti Umayah
Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah selama lebih dari 89 tahun.
Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin
Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut
Dari Bani Umayyah

1. Mu’awiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)
2. Yazid bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)
3. Mu’awiyah bin Yazid (tahun 64-68 H/683-684 M)
4. Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)
5. ’Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-68 H/685-705 M)
6. Walid bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)
7. Sulaiman bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)
8. ’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)
9. Yazid bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724 M)
10. Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)
11. Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)
12. Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)
13. Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)
14. Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)
D. Dinasti abbasiyah
Setelah itu sistem khalifah beralih ke tangan Bani Abas, Bani Buwaih dan Bani Saljuk
I.  Dari Bani ‘Abbas
1. Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
2. Abu Ja’far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)
3. Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
4. Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
5. Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
6. Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
7. Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
8. Al-Mu’tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M)
9. Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
10 .Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
11. Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
12. Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
13. Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
14. Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
15. Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
16. Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
17. Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
18. Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)
II. Dari Bani Buwaih
19. Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
20. Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
21. Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
22. Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
23. Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
24. Al-Thai’i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
25. Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
26. Al-Qa’im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)
III. dari Bani Saljuk
27.  Al Mu’tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
28.  Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
29.  Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
30. Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
31.  Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160M)
32.  Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
33.  Al Mustadhi’u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
34.  An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)

35.  Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
36.  Al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
37.  Al Mu’tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M)
E. Dinasti umayyah II
Dinasti umayyah  II dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1. periode pertama (771-755 M)
2. periode kedua (755-912 M)
3. Periode ketiga (912-1013 M)
4. periode ke empat (1013-1086 M)
5. Periode ke lima (1086-1248 M)
6. periode ke enam (1248-1492 M)

F. Dinasti-dinasti kecil
 1. Fatimiyah (297 H/910 M-567H/1171 M)
2. Muwahidun  (1121-1269 M)
3. Murabitun (448-541 H/1056-1147 M),
4. Ayyubiyah (1174-1250 M)
5. Mamluk (1250-1517 M)
G. Mongol Islam
     (tahun 1206-1290) didirikan oleh Jengis Khan dan terakhir dipimpin oleh Kubilai Khan
H.  Masa Tiga Kerajaan Besar.
a. Turki Utsmani (699 H/1300 M - 1341 H/1922 M)
b. syafawi   (1252-1736 M)
c. mughol (1526–1858 M)










BAB II
Kemunduran Pemikiran Dunia Islam dan Kebangkitan Dunia Islam
1. Kemunduran pemikiran islam
A.  Kemunduran Umat Islam
Ketika kerajaan Isalm sedang mengalami kemunduran di abad ke-18, Eroppa Barat mengalami kemajuan dengan pesat. Kerajaan Syafawiyah mengalami kemunduran karena tidak hanya mendapat serangan dari kerajaan Turki, tetapi juga mendapat serangan dari kalangan Dinasti yang tunduk pada Safawiyah yang ingin merdeka, saperti raja Afganistan yang pada tahun 1722M berhasil menduduki Asfahan, disusul kemudian serangan Dinasti Zand yang pada tahun 1750M berhasil menguasai seluruh Persia. Oleh sebab itu, berakhirlah kekuasaan kerajaan Safawi di pertengahan abad ke-18.
Di belahan Timur, kerajaan Mughal juga dilanda kemunduran, tepatnya pada pemerintahan setelah Aurangzeb yang mendapat serangan dari masyarakat Hindu. Di antaranya berasal dari pemberontakan Sikh yang dipimpin oleh Guru Tegh Mahabur Dean, guru Gobin Singh. Pada awal paruh kedua abad ke-1M, Kerajaan Mughal hancur di tangan Inggris yang kemudian mengambil alih kekuasaan di anak benua India.
Kekuatan Islam terakhir yang masih disegani oleh lawan  tinggal Kerajaan Usmani di Turki. Akan tetapi, yang terakhir ini  juga terus mengalami kemunduran-demi kemunduran sehingga dijuluki sebagai the sickman of Europe, orang sakit dari Eropa. Dalam periode kerajaan Usmani, peradaban Islam mendapat perlawanan dari dua arah, yaitu dari dalam (perlawanan dari orang Islam sendiri) dan luar (serangan balik dari Eropa khususnya kerajaan Kristen).
Perlawanan dari dalam, kerajaan Usmani dilanda konflik antara penguasa Turki dan daerah kekuasaannya yang menuntut merdeka, seperti Mesir dan negara Arab lainnya. pada saat itu, Turki dipandang bukan sebagai khalifah yang melindungi Islam, tetapi tidak lebih sebagai kerajaan yang hanya mementingkan kekuasaan, bahkan corak keislaman dalam kehidupan Istana tidak terilat, yang ada hanya kemewahan. Atas dasar itulah, terjadilah peperangan dengan kerajaan Safawiyah yang berkepanjangan sampai runtuhnya Usmani secara total.Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa terjadinya peperangan itu karena memperebutkan wilayah Irak pada abad ke-18. Ada pendapat lain bahwa timbulnya peperangan itu karena perang ideologis antara Sunni dan Syiah.
Kemerosotan Kesultanan Turki Usmani makin cepat setelah mendapat serangan dri dunia Barat sehingga daerah kekuasaannya satu persatu jatuh kembali ke tangan Kristen.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kelemahan kerajaan-kerajaan Islam tersebut telah menyebabkan Eropa dapat menguasai, menduduki, dan menjajah negeri-negeri Islam dengan mudah.

2. Kebangkitan dunia islam (1800 M)
Benturan-benturan antara Islam dengan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka memang jauh tertinggal dari Eropa. Yang pertama merasakan hal itu diantaranya, Turki Usmani karena kerajaan itu yang pertama menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa penguasa dan pejuang-ejuang Turki banyak belajar dari Eropa.
Pada pertengahan abad ke-20 M, Dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat. Periode ini merupakan zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di periode pertengahan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam membangun tatanan seluruh aspek kehidupan, yang berdasar atau sesuai engan prinsip Islam. Makna ini mempunya implikasi kewjiban bagi umat Islam untuk mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam disebut dengan gerakan pembaruan. Pada periode ini mulai bermunculan pemikiran pembaruan dalam Islam.
Pembaharuan islam sebenarnya sudah dimulai sejak sebelum abad ke-19 M. diantara tokoh yang menyerukan pentingnya pembaharuan islam yang hidup di masa ini  adalah :
1. Sultan Abdul Hamid I (1725-1789 M)
Dia adalah seorang pembaharu dari Turki yang mempelopori gerakan untuk membina persatuan seluruh dunia islam untuk menghadapi perkembangan bangsa barat.
2. Muhammad Ibn Sanusi (1791-1859 M).
Dia merupakan pembaharu dari Aljazair yang memimpin pergerakan solidaritas tariqot sanusiyah.
3. Syaikh Waliyullah (1703-1762 M).
dia menyerukan agar umat islam kembali ke sistem pemerintahan seperti yang pernah dipraktikkan oleh al-Khulafah' al-Rasyidin dengan mengutamakan Demokrasi (musyawarah) dan kepentingan rakyat.
Setelah abad ke 19 terdapat beberapa tokoh pembaharu islam lainnya seperti di bawah ini :
1.   Muhammad Abdul Wahab
Muhammad bin Bdul Wahab adalah seorang pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad ibn Su’ud dan putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-paham Muhammad Abdul Wahab tersebar luas dan pengikutnya bertanbah banyak. Pada tahun 1773 M paham Muhammad Abdul Wahab mendapatkan tempat sebagai paham mayoritas di Riyadh.
            Di tahun 1787, Muhammad Abdul Wahab meninggal dunia. Namun ajaran-ajarannya tetap hidup dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah.
2.   Jamaludin al-Afgani
Gagasan Jamaludin al-Afgani mengilhami kaum muslim di Turki, Iran, Mesir dan India. Meskipun sangat anti imperialism barat. Ia tidak melihat adanya kontradiksi antara islam dan ilmu pengetahuan. Namun, gagasannya untuk mendirikan sebuah universitas yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan modern di turki menghadapi tantangan kuat dari para ulama. Pada akhirnya, ia diusir dari Negara tersebut. Guru dan murid dari Jamaludin al-Afgani sempat mengunjungi beberapa Negara eropa dan sangat terkesan dengan pengalaman mereka disana.
3.   Muhammad Rasyid Rida

Dalam pandangannya, Muhammad Rasyid Rida berpendapat bahwa kaum muslimin diwajibkan melakukan pembelaan terhadap orang-orang nonmuslimin yang tunduk di bawah pemerintahan kaum muslimin, dan memperlakukan mereka sama seperti kaum mislimin sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh syariat. Menurutnya, pemuda Islam harus memiliki patrostisme, yakni menjadi teladan yang baik bagi rakyat negaranya, apa pun agama mereka, yang penting mampu bekerja sama dalam kegiatan yang sah demi mempertahankan kemerdekaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, kebaikan, kekuatan dan sumber-sumber sejalan dengan hukum islam , yang mengutamakan hubungan erat hak-hak dan kewajiban-kewajiban.

4.   Muhammad Abduh
     Muhammad Abduh adalah salah seorang murid  dari Jamaludin al-Afgani. Ia berpandangan bahwa reformasi sosial serta pendidikan merupakan jalan menuju reformasi politik serta pembebasan kaum muslimin dari cengkraman Barat. Penafsiran yang ia lakukan tidak menyerukan seruan revolusioner  untuk memperbaiki kondisi yang ada berdasarkan pemikiran kapitalisme yang kafir, namun hanya tindakan koampromi dan adaptasi antara antara islam dengan perasaan zaman dan tuntutan-tuntutannya.
5. Al Tahtawi (1801-1893 M)
Seorang yang mendalami berbagai ilmu barat tepatnya di Perancis, serta banyak bergaul dengan ulma Al-Azhar. Dia banyak menyalin berbagai buku berbahasa perancis ke dalam bahasa arab, sehingga didirikanlah sekolah penerjemah yang meliputi bahasa arab, perancis, turki, persia maupun italia.
6. Sayyid Ahmad Khan, adalah pembaharu islam di India. sebagai langkah untuk membangkitkan kembali umat islam. Sayyid Khan mengemukakan tingga langkah yang harus di tempuh. pertama, bekerja sama dalam bidang politik. kedua, mengambil ilmu-ilmu berat. ketiga, menafsir ulang islam dalam bidang pemikiran.
3. Pemikiran islam kontemporer
1. Fundamentalis
Kelompok pemikiran yang sepenuhnya percaya pada doktrin islam sebagai satu-satunya alternatif bagi kebangkitan umat dan manusia. Bagi mereka islam sudah mencakup aspek kehidupan, sosial, politik dan ekonomi. Garapan utama mereka adalah menghidupkan islam sebagai agama, budaya sekaligus peradaban, dengan menyerukan kembali kepada sumber al-quran dan as-sunnah dan menyerukan untuk mempraktekan ajaran islam sebagaimana yang diprktikan Rasululloh dan khulafaur rasyidin. Ada dua istilah yang dikenal dalam kamus intelektualnya,
a. Islam (jund Allah dan ashab ar-rasul)
b. Jahiliyah ( kuffar dan thagut )
Para pemikirnya :
a. Sayyid qutb
b. Muhammad qutb
c. Al—maududui
d. Said hawa
e. Anwar jundi
f. Zianuddin sardar
g. Abu Bakar Ba’asyir
h. Ja’far Umar Thalib
i. Habib Habsyi
2. Tradisonalistik (salaf)
Kelompok pemikiran yang berusaha untuk berpegang teguh pada tradisi-tradisi yang telah mapan. Namun berbeda dengan kaum fundamental yang sama sekali menolak modernitas dan membatasi hanya pada khulafaur rasyidin yang empat, kelompok ini justru melebarkan tradisi sampai pada seluruh salaf shalih dan tidak menolak pencapaian modernitas. Sehingga mereka masih mau mengadopsi peradaban luar, tetapi dengan syarat semua itu harus diislamkan lebih dulu. Garapan mereka adalah islamisasi dalam segala aspek kehidupan.
Tokoh-tokohnya :
a. Husein Nasr
b. Muthahari
c. Naquib Al-Attas
d. Ismael Faruqi
Di tanah air kecenderungan tersebut terlihat jelas dalam masyarakat pesantren. Turats (tradisi dengan segala aspeknya). Kecenderungan tradisionalisme pada saatnya melahirkan konsekuensi-konsekensi tertentu, yaitu :
a). Ekslusifisme, karena adanya penokohan, bahkan pensakralan individu, sikap tradisonalistik menggiring terbentuknya sikap-sikap ekslusif yang hanya menghargai dan mengakui kebenaran kelompoknya sendiri dan enolak kebeadaan kelompok lain.
b). Subjektifisme, sebagai akibat lanjut dari ekslusifisme, orang-orang kelompok ini menjadi kehilangan sikap objektif dalam menilai sebuah persoalan.
c). Determinisme, sebagai akibat lanjut dari konsekuensi diatas, di mana masyarat telah tersubordinasi dan terkurung satu warna.
3. Reformistik
Kelompok pemikiran yang berusaha merekontruksi ulang warisan-warisan budaya islam denagn caca memberi tafsiran-tafsiran baru. Menurut kelompok ini, umat islam sesungguhnya telah mempunyai budaya dan tradisi (turats) yang bagus dan mapan. Namun, tradisi tersebut harus dibangun kembali secara baru dengan kerangka modern dan masyarakat rasional agar bisa survive dan diterima dalam kehidupan modern.
Tokoh-tokonya
a. Hasan Hanafi
b. Asghar Ali Engineer
c. Bint asy-Syathi
d. Amina Wadud
e. M. Imarah
f. M. Khlafallah
g. Hasan Nawab         

Komentar

Postingan Populer